Margaret Thatcher Meninggal Di Usia 87 Tahun

Margaret Thatcher, mantan perdana mentri Inggris

Margaret Thatcher, yang meninggal dunia hari ini di usianya yang ke-87 tahun, adalah seorang pemimpin wanita yang sangat luat biasa. Beliau mempunyai moral yang teguh dan pandangan politik yang tegas. Ia menjalani kehidupan politiknya bukan sebagai karir, tetapi lebih sebagai sebuah misi.

Margaret Thatcher bukanlah seorang yang tumbuh di dunia politik, tetapi sebaliknya ia adalah putri dari seorang pedangan kelontong yang hidup di negara dimana kepemimpinan di dominasi oleh kaum pria. Ia menapaki karirnya dan berhasil duduk di posisi tertinggi melalui bakat dan kerja keras yang luar biasa. Margaret Thatcher menuntut ilmu di Oxford dan kemudian naik ke posisi puncak Partai Konservatif Inggris di tahun 1975, ketika usianya menginjak paruh abad. Sebelumnya ia sempat mengatakan bahwa ia tak yakin dalam masa hidupnya akan ada seorang perdana mentri wanita di negaranya. Pada akhirnya, dirinya sendirilah yang membuktikan bahwa anggapannya yang dahulu itu salah.

Margaret Thatcher Meninggal
Margaret Thatcher diangkat menjadi perdana mentri Inggris di tahun 1979, dan menjabat hingga tahun 1990.  Pada awal masa pemerintahannya, ia dimusuhi oleh hampir semua orang karena kebijakannya memotong pengeluaran dan tunjangan. Pengangguran meningkat sampai diatas tiga juta jiwa, dan kemudian di tahun 1981 dukungan untuknya merosot hingga 25%. Menanggapi hal ini, Margaret Thatcher hanya mengatakan bahwa bagi mereka yang menahan nafas untuk menunggu apa yang diistilahkan oleh media sebagai U-Turn atau putaran balik, ia hanya punya satu jawaban untuk mereka. Ia mempersilahkan siapapun yang hendak berpaling darinya dan dari kebijakannya untuk melakukan hal itu, ia sekaligus menegaskan, ia tak akan melakukan hal tersebut.

Tak lama kemudian, tingkat ekonomi mulai membaik, dan kemudian Margaret Thatcher memompa moral warga Inggris dengan merespon invasi yang dilakukan Argentina di tahun 1982 terhadap Falklands Island dengan tindakan militer yang mulus, sekaligus tegas. Ia mematahkan badan persatuan buruh yang kekuatannya dianggap mencekik perekonomian Inggris berdasarkan pandangannya, dan ia mengijinkan masyarakat yang selama ini tinggal di perumahan rakyat (semacam perumnas) untuk membeli kediaman mereka sendiri, dan dengan demikian ia memberikan kesempatan kepada jutaan orang untuk menjadi bagian dari perekonomian.

Margaret Thatcher mendapatkan banyak dukungan, tapi tak sedikit juga yang menentang dirinya. Keteguhannya dalam menghadapi aksi mogok makan yang dilakukan IRA memicu kebencian mereka yang menganggap ia menyulut para pelaku aksi protes di Irlandia untuk melakukan kekerasan. Ia bisa jadi benar, tapi bisa juga salah dalam hal ini. Ia menekankan setelah tembok Berlin diruntuhkan, bahwa usaha untuk mempersatukan Jerman Barat dan Jerman Timur akan gagal. Ia adalah sosok yang bisa dianggap sebagai jawara, atau seorang tiran kapitalis yang bengis. Namun, hal inilah yang menjadikan Margaret Thatcher sebagai seorang pemimpin yang revolusioner. Ia adalah sosok yang memegang teguh prinsipnya dalam memimpin.

Margaret Thatcher merangkum filosofinya dalam wawancara yang dilakukan pada tahun 1987, sebagaimana yang dikutip agen IBCBet terpercaya, yang mengatakan bahwa dirinya merasa bahwa mereka sudah melalui periode dimana terlalu banyak anak-anak dan orang-orang yang berpikir bahwa apabila mereka mempunyai masalah, maka tugas pemerintahlah untuk mengatasi hal itu. Atau jika mereka punya masalah, maka mereka bisa pergi ke pemerintah dan mendapatkan bantuan untuk mengatasi hal tersebut. Mereka tak punya rumah untuk tinggal, dan menjadi tugas pemerintah lah untuk menyediakan mereka hunian. Dan maka dari itu mereka menimpakan permasalahan yang mereka miliki kepada masyarakat. Tetapi, siapakah masyarakat itu sendiri?

Margaret Thatcher melihat bahwa hal ini merupakan sesuatu yang tidak bisa diterima. Ada individu pria dan wanita, dan ada keluarga. Yang secara bersama-sama maka mereka disebut sebagai masyarakat. Tak ada satu pemerintahanpun yang bisa melakukan apapun kecuali melalui masyarakat tersebut, dan masyarakat masing-masing harus berusaha mencari solusi atas permasalahan yang mereka hadapi.

Menjaga diri adalah tugas dari masing-masing orang, dan kemudian juga membantu menjaga tetangga di lingkungan rumah tinggal. Hidup adalah masalah timbal balik, dan tiap orang sudah punya beban mereka masing-masing tanpa harus ditambahi dengan kewajiban itu.

Berikut cuplikan biografi dan perjalanan hidup dan karir dari Margaret Thatcher untuk mengenang kontribusi dan peranannya dalam dunia politik, dan juga dalam kemajuan dunia wanita. Selamat jalan Margaret Thatcher

Selengkapnya Margaret Thatcher Meninggal Di Usia 87 Tahun

Nikita Mirzani Kembali Buat Sensasi

Nikita Mirzani dengan pria yang diduga Edwin Soekmono

Nikita Mirzani, dara cantik yang wajahnya sering kita lihat di acara bertajuk Kakek Kakek Narsis (KKN) yang tayang di stasiun televisi tanah air Trans TV sebagaimana kita ketahui belum lama ini sempat ramai diberitakan karena foto kontroversialnya yang beredar di media, dimana gambar tersebut menunjukkan Nikita yang menunduk, dan Daus Mini berdiri di depannya sambil mengangkat tangan memegang payudara Nikita. Mengenai foto ini, Daus sempat mengungkapkan bahwa foto tersebut diambil atas permintaan Nikita, dan pose nya pun juga diminta oleh Nikita. Daus yang bagaikan kedapatan rejeki nomplok tentunya tak menolak permintaan tersebut.

Nikita Mirzani dan Daus Mini
Nikita Mirzani mengaku karirnya sedikit terusik karena publikasi yang diakibatkan foto tersebut disertai kritikan-kritikan publik yang cukup pedas yang dilayangkan kearahnya. Namun hal tersebut tidak berlangsung lama. Setelah foto bersama Daus Mini yang sempat mengundang kontroversi, kini beredar kembali foto syur Nikita Mirzani dengan seorang pria yang diduga bernama Edwin Soekmono, yang juga merupakan aktor tanah air. Dalam foto tersebut tampak Nikita berdiri membelakangi sang pria yang tangan kanannya meremas payudara Nikita.

Foto Nikita Mirzani dengan pria tersebut memang tampak diambil oleh seorang yang profesional dalam bidang fotografi. Pasalnya pencahayaan dan efek visual dari foto tersebut menjadikan gambar terlihat cukup artistik. Ketika ditanya soal foto terbarunya ini, Nikita mengatakan bahwa menurut pandangannya, fotonya
Foto Panas Nikita Mirzani Dengan Pria Yang Diduga Edwin Soekmono
bukanlah hasil produk pornografi tetapi merupakan hasil karya seni yang punya nilai estetika. Dan soal tubuh yang ia perlihatkan, ia mengatakan bahwa posenya tidak memperlihatkan apa yang dinilai melewati batas, karena tangan si pria menutupi payudaranya. Namun, Nikita juga menyadari bahwa setiap orang mungkin mempunyai pandangan masing-masing. Oleh sebab itu ia juga tidak akan memaksakan pandangannya terhadap foto tersebut dan akan membiarkan masyarakat membuat penilaian mereka sendiri.

Nikita Mirzani memang dikenal sebagai artis yang tidak sungkan dalam memperlihatkan tubuhnya yang memang indah dan seksi. Dara kelahiran Jakarta, 17 Maret 1986 ini cukup sering berfoto seksi dan menampakkan sejumlah tatto yang terlukis di kulitnya yang mulus itu. Beberapa foto yang sempat membuat masyarakat bereaksi adalah foto Nikita tanpa mengenakan atasan (topless) dan fotonya kala hanya mengenakan lingerie.

Berikut beberapa foto syur Nikita Mirzani yang berhasil diperoleh agen SBOBet Casino dari beberapa sumber berbeda.
      



Selengkapnya Nikita Mirzani Kembali Buat Sensasi

Lindsay Lohan dan Avi Snow Resmi Berpisah

Lindsay Lohan dan Avi Snow

Lindsay Lohan yang belum lama ini dikabarkan tengah menjalin hubungan dengan Avi Snow tampaknya kini sudah kembali melajang.

Lindsay Lohan, aktris berusia 26 tahun yang seringkali terlibat masalah tersebut, dan kekasih barunya yang merupakan bintang musik rock sudah mengakhiri hubungan mereka. Menurut sebuah situs infotainment selebriti ternama, narasumber mengkonfirmasi bahwa pasangan ini memutuskan untuk mengakhiri hubungan mereka setelah beberapa minggu berkencan, demikian yang dikutip Master Agen Bola.

Lindsay Lohan dan Avi Snow bermesraan
Meskipun detil perpisahan mereka belum diumumkan di media, Lindsay Lohan tidak terlihat bersama dengan gitaris City of the Sun itu semenjak ia berangkat ke Brasil pada minggu lalu. Ia kembali dari perjalanannya ke Amerika Selatan pada hari Selasa 2 April lalu, tetapi tidak berkumpul dengan Avi Snow.

Baru minggu lalu, Snow sempat berbicara di media mengenai kekasihnya. Dalam wawancara tersebut Snow mengatakan bahwa Lohan adalah seorang yang luar biasa dan menyenangkan. Lohan juga disebutkannya sebagai supporter terbesar dari klub musiknya, sehubungan dengan kehadirannya pada pertunjukan musik yang digelar Snow dkk baru-baru ini.

Saat itu, Snow tidak mengkonfirmasi ataupun menyangkal kabar kedekatannya dengan Lindsay Lohan. Namun, pasangan ini terlihat bermesraan oleh fotografer pada saat yang sama ketika Ava Snow dan grupnya tampil di sebuah klub bernama 41 Ocean di Santa Monica Sabtu lalu.

Lindsay Lohan, yang saat ini akan segera menjalani rehabilitasi (atau kemungkinan hukuman penjara) akan tampil pada acara "The Late Show with David Letterman" pada tanggal 9 April sebelum kemudian menghadiri Coachella Music Festival di Carolina Selatan, dan setelah acara-acara ini, Lohan akan memenuhi perintah pengadilan yang mengharuskannya menjalani 90 hari program rehabilitasi. Sebagaimana diketahui sebelumnya, Lindsay Lohan terlibat dalam kecelakaan bersama dengan asistennya ketika mengendarai mobil porche yang disewanya menuju lokasi syuting. Dan putusan pengadilan untuk memerintahkan Lindsay merupakan hasil dari sidang kecelakaan tersebut.
Selengkapnya Lindsay Lohan dan Avi Snow Resmi Berpisah

Lindsay Lohan Tampak Memar-Memar Saat Berjemur


Lindsay Lohan

Lindsay Lohan, artis sensasional yang semakin lama semakin lebih sering menjadi pemberitaan karena kasus-kasus yang melibatkan dirinya, dibandingkan dengan prestasi yang diukirnya belum lama ini kembali menghiasi halaman utama media massa.

Lindsay Lohan dengan memar di paha kirinya
Lindsay Lohan tak bisa dipungkiri memang seorang aktris yang cantik dan tau bagaimana menghias diri untuk membuat penampilannya makin bersinar. Tetapi aksesoris pemeran dalam film Liz & Dick yang terakhir, mungkin akan membuat publik tercengang.

Lindsay Lohan belum lama ini tampak tertangkap kamera ketika ia sedang berjemur di pantai Florianopolis, Brasil mengenakan bikini berwarna biru dan celana pendek Royal Cutoff senada. Aktris berusia 26 ini tampak mengenakan aksesoris tambahan, yaitu memar-memar berukuran besar yang terlihat di kaki kirinya.

Meskipun Lindsay Lohan tampak santai ketika ia berbaring dan menikmati sinar matahari, lebam berwarna hitam kebiruan tersebut sepertinya sulit untuk diabaikan.

Lindsay Lohan dalam waktu dekat akan memasuki program rehabilitasi yang merupakan perintah pengadilan akibat kecelakaan lalu lintas yang beberapa bulan lalu melibatkan dirinya dan seorang supir truk. Sebagaimana diketahui, Lindsay Lohan terlibat dalam kecelakaan ketika mengendarai mobil porche sewaan bersama asistennya saat keduanya sedang dalam perjalanan menuju lokasi syuting. Adapun program rehabilitasi yang akan dijalaninya ini termasuk didalamnya 90 hari perawatan inap, ditambah psychotherapy dan pelayanan masyarakat.

Lindsay Lohan memang banyak menjadi pemberitaan belakangan ini. Sebelumnya, ia sempat memberi kejutan April Mop dengan menuliskan seolah-olah dirinya hamil pada akun Twitternya, dan pada hari berikutnya, ia mengkonfirmasi bahwa kehamilannya tersebut hanya merupakan lelucon. Meskipun tak banyak yang menanggapi berita kehamilan tersebut secara serius, tampaknya ia sendiri pun kurang puas dengan hasil akhir leluconnya sendiri. Ia menghapus tweets tersebut beberapa saat setelah menuliskan konfirmasi leluconnya.

Lelucon Lindsay Lohan bahkan sempat menjadi topik yang hangat dibicarakan, dan media juga langsung memburu kebenaran berita ini. Tweet itu sendiri di retweet sebanyak 9.000 kali dalam waktu satu jam setelah Lindsay membuatnya.

Selengkapnya Lindsay Lohan Tampak Memar-Memar Saat Berjemur

Marina Chapman - Diculik, Dibuang di Hutan, Dibesarkan Kera Capuchin (Part 3)


Marina Chapman

Marina Chapman merasa waktu tak lagi mempunyai arti untuknya. Namun ia merasa waktu yang ia habiskan di hutan tidak sampai lebih dari tiga tahun, ketika kemudian kenangan masa lalunya kembali mencuat ke permukaan.

Marina Chapman menemukan sebuah pemukiman penduduk pada suatu hari, ketika ia sedang menjelajah. Ia mengira, mereka yang mendiami wilayah tersebut adalah spesies baru. Ia melihat tiga pondok yang besar dan berbentuk lingkaran dengan atap yang terbuat dari daun-daun panjang. Melihat mereka yang berada di pemukiman itu menimbulkan rasa rindu dalam dirinya. Begitu banyak yang telah dilupakannya. Ia melihat orang-orang, sebuah keluarga manusia. Dan, ia mengingat kembali bahwa dirinya juga adalah seorang manusia.

Sejak saat itu hidupnya menjadi terfokus. Meskipun ia pulang ke koloni kera pada malam hari, kebanyakan waktu siangnya ia gunakan untuk mengawasi pemukiman tersebut. Dengan hati-hati ia memanjat pohon dan menghabiskan waktu berjam-jam hanya melihat mereka. Ia melihat anak-anak bermain, api yang menyala, dan keluarga yang bersama-sama. Ia berpikir alangkah indahnya jika ia menjadi salah satu anak yang dikasihi seperti itu.

Marina Chapman and daughter Vanessa James
Marina Chapman memutuskan untuk keluar dari persembunyiannya pada suatu hari, dan ia berdiri di dekat perkemahan. Ia melihat seorang wanita berdiri di tepi air, seorang ibu dari bayi yang baru lahir. Ia terkesima melihat ibu tersebut. Tak lama, sang ibu itu juga melihatnya. Namun ketika mereka beradu pandang, yang tampak pada mata ibu tersebut adalah ketakutan. Ia mulai panik, berteriak ke arah Marina, dan Marina berusaha untuk bersembunyi dan membuat tubuhnya sekecil mungkin. Seorang pria keluar dari salah satu pondok dan bergegas ke arahnya. Ia mengenakan ikat kepala berbahan kain yang dihiasi dengan batu-batuan dan bulu unggas. Laki-laki ini membuatnya merasa takut, karena ia mencengkram bahu Marina sementara tangan yang satunya lagi menarik wajahnya mendekat

Laki-laki besar itu membuka mulut Marina untuk memeriksa giginya. Setelah selesai, ia mengusir Marina yang terus menerus memohon kepadanya agar diberikan makanan dan tempat bernaung. Tetapi suara yang keluar dari mulutnya dan sikap yang ia tunjukkan adalah prilaku seekor kera, bukan seorang anak manusia. Laki-laki itu bahkan tak memperhatikan Marina sedikitpun. Dan sekali lagi, ia masuk ke dalam hutan dengan hati yang hancur.

Marina Chapman mendapatkan sebuah pelajaran berharga pada hari itu, bahwa keluarga ada dimana saja ditempat seseorang dikasihi dan diperhatikan. Marina merasa sudah berlaku tak setia pada keluarga kera-nya. Ia sadar ia harus melupakan jati dirinya sebagai manusia dari kepalanya. Koloni kera lah keluarganya, bukan kelompok manusia. Demikian pikirnya.

Nantikan kisah menarik lainnya hanya di Master Agen Bola, agen bola SBOBet terpercaya dan nomor 1
Selengkapnya Marina Chapman - Diculik, Dibuang di Hutan, Dibesarkan Kera Capuchin (Part 3)

Marina Chapman, Diculik, Dibuang di Hutan, dan Dibesarkan oleh Kera Capuchin (Part 2)


Marina Chapman

Marina Chapman merasa sangat takut ketika pertama kali ia melihat kera-kera tersebut berkelahi dengan sesamanya yang berniat mengusik daerah kekuasaan mereka. Menit pertama mereka tampak bermain, dan dimenit berikutnya terdengar suara dahan patah dan perkelahian dan mereka mengerubungi kanopi tempat mereka tidur.

Suara perkelahian yang terjadi diatas kepalanya diakuinya sangat mengerikan. Marina sangat terkejut melihat darah pada mulut kera-kera itu. Ia sadar dirinya berada di tempat yang berbahaya, tetapi mengingat bagaimana kera-kera itu memperlakukan dirinya, ia memutuskan sepertinya para kera tersebut tidak menganggap dirinya sebagai sebuah ancaman. Hal yang paling diingatnya saat itu adalah betapa ia merasa sangat kesepian. Hari demi hari berlalu, dan tak ada tanda-tanda orang tuanya akan segera datang menjemput. Bahkan, tak ada tanda-tanda kehadiran manusia lain satupun.

Harapan Marina Chapman untuk diselamatkan pudar, secepat pudarnya gambar bunga yang ada di gaunnya. Ia mencoba menirukan suara-suara yang dibuat para kera tersebut untuk hiburannya sendiri, dan mungkin juga untuk memberikan dirinya ketenangan untuk mendengar suaranya sendiri.

Tetapi kemudian ia menyadari kadang seekor atau beberapa ekor kera menyahutinya. Maka ia mulai mempelajari suara-suara tersebut, karena ia haus akan interaksi. Apabila ada bahaya yang mengancam, maka suara yang mereka keluarkan akan lebih tinggi, seperti teriakan tajam, yang biasanya disertai dengan hentakan telapak tangan ke tanah.

Mereka kemudian akan segera naik ke pohon dan berlindung dibalik kanopi mereka, meninggalkannya ketakutan dan panik, dan mencoba menemukan tempat yang aman di bawah. Semakin lama, Marina Chapman semakin kotor, dan ia semakin sering menggaruk tubuhnya. Sebagaimana para kera yang berada di sekitarnya, ia menjadi hunian serangga-serangga kecil. Tak hanya kulitnya yang semakin kering dan bersisik, ia juga dihinggapi kutu.

Marina Chapman merasa penyakit bukanlah sesuatu yang bisa ia hindari. Dan ketika akhirnya ia benar-benar jatuh sakit, ia mengira dirinya akan mati. Namun ternyata hal ini menjadi titik balik hubungannya dengan para kera tersebut, yang akhirnya menganggap dirinya sebagai salah satu dari mereka.

Marina Chapman merasakan sakit yang amat sangat di perutnya, yang hingga menyebabkan ia merintih kesakitan. Sehari sebelumnya ia makan buah asam, yang memang salah satu pilihan yang disukainya. Tetapi ketika ia mencicip buah tersebut, ia menyadari bahwa apa yang dimakannya itu bukanlah buah asam yang biasa. Ketika ia merintih kesakitan, ia melihat para kera itu seperti bersimpati atas keadaannya. Meskipun pandangannya kabur, ia melihat Kakek Kera, panggilannya pada salah satu kera di kumpulan tersebut melompat turun dari pohon yang biasa didudukinya dan datang mendekati dirinya. Kera itu meremas tangan Marina dengan erat, dan mulai mengguncang dirinya, seperti ingin menggiringnya ke suatu tempat. Kera tersebut sangat bersikeras, dan dengan merangkak, Marina mengikutinya.

Tiba-tiba ia terjatuh dan terguling-guling hingga akhirnya ia sampai pada sebuah ngarai. Kakek kera tampak ingin mencelupkan kepalanya kedalam air. Kera tersebut memegangi rambutnya dengan erat. Marina tak paham apa yang ingin dilakukan oleh kera tersebut, apakah ia ingin agar Marina meminum air di sungai itu, ataukah memang ingin menenggelamkan dirinya.

Marina Chapman berontak dengan sekuat tenaga, ia mencoba menjauh dari si kera dan memukuli permukaan air dan ketika marina menciprati air sungai tersebut ke arah si kera dan kemudian kera itu mengangkat wajahnya dan menatap matanya. Ketika Marina melihat mata Kakek Kera, ia melihat sesuatu yang tak pernah dilihatnya sebelum itu. Ekspresi yang ditunjukkan oleh sang kera sangat tenang, tak ada kemarahan, atau sikap bermusuhan. Mungkin kera itu mencoba memberitahukan sesuatu kepadanya. Demikian yang ia rasakan.

Seketika itu juga Marina mempercayai sang kera. Tatapan matanya, dan ketenangan sikapnya membuat Marina sadar bahwa kera itu berusaha untuk menolongnya. Ia kemudian menuruti apa yang sepertinya diberitahukan oleh si kera, ia mencelupkan kepalanya ke dalam air dan minum sebanyak-banyaknya sampai ia merasakan air tersebut di hidungnya.

Kakek kera melepaskan dirinya. Ia merangkak dan jatuh dengan wajah menghadap tanah. Ia mulai batuk lagi dan lagi, dan kemudian memuntahkan isi perutnya. Ternyata air yang diminumnya itu memberikan hasil yang baik, setelah ia berhasil mengeluarkan isi perutnya. Ia merasa mulai kuat untuk kembali ke wilayah kekuasaan koloni kera. Kakek Kera yang tampak bangga atas keberhasilannya menyembuhkan Marina, berjalan dengan gagah di depannya dan kemudian naik ke pohon favoritnya. Mulai dari saat itu sikap Kakek Kera berubah dengan drastis atas dirinya. Dimana sebelumnya ia bersikap tak acuh dan penuh kecurigaan, kini bagaikan pelindung dan sahabat bagi Marina Chapman.

Marina Chapman semakin lama semakin merasa diterima di koloni kera yang ada disekitarnya. Ia kemudian belajar bagaimana cara memanjat pohon, untuk bergabung dengan keluarga kera nya di daerah alami mereka. Semakin lama, ia mencoba untuk memanjat pohon yang semakin pendek dan tipis. Ia seringkali terjatuh, tetapi ia tidak membiarkan kegagalannya menjadi penghambat.

Marina Chapman menjadi semakin kuat, otot di kaki dan tangannya berkembang dan menjadi lentur, sementar kulit di tangan, kaki, siku, lutut, dan pergelangan kaki semakin kering dan bersisik. Marina akan mengingat hari dimana ia berhasil mencapai kanopi di atas pohon sampai akhir hayatnya. Pemandangan yang dilihatnya dari atas sana sangat menakjubkan. Tiupan angin yang dingin merupakan kejutan yang membuatnya terkesiap.

Kera-kera itu tentu saja tampak tak perduli mendapati Marina ada di atas bersama mereka. Tetapi ia merasa sangat senang, ia berpikir, disinilah tempat yang paling digemari para kera itu, dan akhirnya ia benar-benar menjadi bagian dari mereka.

Marina Chapman merasa sangat senang menjadi bagian dari kera-kera itu, dan merasa diikut sertakan. Memang masih ada malam-malam dimana ia menyesali apa yang telah direnggut darinya dan menangis sampai berjam-jam. Tetapi dengan berlalunya bulan demi bulan, ia benar-benar menjadi salah satu dari kera-kera di sekitarnya.

Jangan lewatkan bagian penutup dari kisah Marina Chapman, dimana akhirnya ia bertemu kembali dengan peradaban manusia, yang dipersembahkan oleh agen SBOBet terpercaya
Selengkapnya Marina Chapman, Diculik, Dibuang di Hutan, dan Dibesarkan oleh Kera Capuchin (Part 2)

Marina Chapman - Diculik, Dibuang di Hutan, dan Dibesarkan oleh Kera Capuchin


Marina Chapman - Diculik, Dibuang di Hutan, dan Dibesarkan Kera

Marina Chapman punya kisah hidup yang sangat luar biasa. Ibu rumah tangga yang berdomisili di Yorkshire ini menghabiskan lima tahun dari masa kecilnya di hutan belantara Kolumbia, dibesarkan oleh segerombolan kera. Para ahli tidak menemukan bukti bahwa apa yang diungkapkan Marina Chapman hanyalah sebuah khayalan, dan sekarang ia menungkapkan detail kisahnya secara lengkap.

Marina Chapman mengungkapkan bagaimana sebuah koloni kera mengajarkannya cara bertahan hidup setelah ia ditelantarkan di sebuah hutan hujan oleh para penculiknya dalam sebuah buku. Ia meniru kebiasaan makan kera-kera tersebut dan lengkingan teriakan mereka. Ia bahkan belajar bagaimana memanjat pohon, dan tidur diantara batang pohon di malam hari.

Kisah Marina chapman, yang hampir sama dengan cerita fantasi Tarzan, dimulai pada tahun 50an, saat ia dibius dan kemudian diculik dari rumahnya di Kolombia ketika berusia 4-5 tahun. Ia mengingat ketika masa kecilnya direnggut, dan kebaikan kera yang menyerupai manusia tersebut menyelamatkan nyawanya. Berikut kisahnya yang mampu mencengangkan begitu banyak orang.

Marina Chapman menuturkan "Satu detik aku sedang sibuk bermain di lantai, dan detik berikutnya aku melihat kilasan tangan berwarna hitam dan sebuah kain putih yang ditempelkan di wajahku. Ketika aku tersentak karena rasa takut dan kaget, aku mencium bau bahan kimia yang tajam. Hal terakhir yang aku ingat saat aku mulai tak sadarkan diri adalah, Aku akan mati."

Marina Chapman tidak tahu berapa lama ia pingsan hingga akhirnya perlahan lahan ia mulai sadarkan diri. Ia mendengar suara deru mesin, dan menyadari bahwa dirinya berada di bagian belakang sebuah truk. Dan ia tidak sendirian. Ia mendengar suara isak tangis dan rintihan. Ada anak-anak lain dalam truk tersebut, anak-anak yang ketakutan seperti dirinya. Ia kemudian kembali kehilangan kesadarannya.

Marina Chapman tak menyadari berapa lama waktu berlalu ketika ia sadar berikutnya. Ia merasakan tanah dibawahnya bergerak dan kemudian sadar bahwa ia sedang dibopong oleh seorang dewasa. Ia merasakan ada orang lain yang juga berlari bersama mereka. Mereka masuk semakin jauh ke dalam hutan hingga akhirnya pria yang membopongnya dengan kasar menjatuhkannya ke tanah. Terkejut, ia mencoba untuk berdiri dan melihat siapa yang menggendongnya, tetapi yang bisa ia lihat hanyalah sepasang kaki panjang yang berlari menjauh dan dengan cepat hilang dai kedalaman hutan.

Marina Chapman tak tahu dimana ia berada, mengapa ia berada di sana, dan apakah akan ada yang menyelamatkannya. Langit semakin menghitam dan suara-suara dalam hutan menjadi semakin menakutkan. Ia hanya seorang anak berusia lima tahun, tak berdaya, diabaikan, dan sangat ketakutan karena ia sendirian. Ia berpikir, bagaimana ia bisa selamat.

Marina Chapman terjaga karena panasnya sengatan sinar matahari, dan begitu ia membuka mata, barulah ia menyadari bahwa ia berada dalam sebuah hutan. Ia kembali teringat akan apa yang terjadi pada hari sebelumnya. Ia mulai bangun dan mencari jalan untuk melarikan diri. Tapi ia tak tahu arah mana yang harus diambilnya.

Marina berlari berputar-putar dan yang ia lihat hanyalah pohon demi pohon. Ia menangis dan berpikir mengapa ibunya belum juga menjemputnya. Dan ketika langit kembali gelap, ia sadar bahwa ia harus menghabiskan satu malam lagi di hutan tersebut, ditengah hewan-hewan buas yang mungkin berkeliaran.

Marina Chapman bangun keesokan harinya karena rasa sakit yang menusuk di perutnya. Ia begitu lapar dan ia harus menemukan sesuatu untuk dimakan. Ia meringkuk di tanah yang ditidurinya dan merintih kesakitan. Ia ingin mati, dan kemudian tak sadarkan diri. Saat terjaga, ia membuka satu matanya dan apa yang ia lihat hampir membuatnya untuk melanjutkan membuka matanya. Ia tak sendirian. Bahkan, ia sedang dikerumuni.

Di bebrapa tempat di kejauhan, banyak kera memelototi dirinya. Setelah beberapa lama, satu dari kera tersebut meninggalkan lingkaran dan mendekatinya. Rasa takut membuatnya mundur dan meringkuk, ia berusaha membuat tubuhnya sekecil mungkin.

Kera itu mengulurkan satu tangannya dan dengan dorongan yang kuat, kera itu menggulingkan Marina ke samping. Ia sempat mengira, kera itu akan menyerang nya sekali lagi. Namun hal itu tidak terjadi. Kera itu kehilangan minat terhadap dirinya, dan kembali ke lingkarannya. Tetapi mereka tetap memperhatikan dirinya dengan sangat seksama.

Kemudian, mereka semua tampak penasaran ingin memeriksa dirinya, mereka saling berkomunikasi satu sama lain, dan beberapa dari kera-kera itu menghampiri dirinya untuk melihat lebih dekat.

Mereka mulai mendorong-dorong nya dari berbagai arah, menarik bajunya yang sudah kotor, dan menjambaki rambutnya. Marina yang saat itu sangat ketakutan menangis dan meminta kera-kera itu untuk tidak mengganggunya. Tetapi ia harus menunggu, ia hanya bisa diam sampai mereka selesai menyelidikinya.

Marina Chapman memang merasa takut, tetapi disisi lain ia juga terpesona dengan cara mereka yang tampak sangat menikmati kebersamaan mereka satu sama lain yang membuat mereka tampak seperti sebuah keluarga. Dan apapun yang mereka lakukan, tampaknya mulut mereka tidak pernah berhenti makan. Marina sadar, itulah juga yang harus ia lakukan, atau ia akan mati.

"Aku terkejut mendengar lengkingan yang datang dari atas kepalaku. Aku melihat ke atas dan tampak seekor kera kecil berayun dari satu pohon ke pohon lainnya, dimana tergantung buah-buah yang menyerupai pisang. Buah itu tampak belum masak, berukuran sebesar jariku, dan warna hijau nya tidak menggugah selera. Karena usahanya yang terburu-buru, kera itu menjatuhkan setumpuk buah yang kemudian ku ambil dari tanah di depanku."

Capuchin Monkey
Marina Chapman memperhatikan kera didekatnya yang tampak sedang menikmati isi dari buah itu dan ia mengikuti apa yang dilakukan si kera. Ia melihat sekeliling untuk mencari sebatang tongkat, dan kemudian ia memetik buah itu sendiri untuk dirinya. Ia tak lagi sendirian, dan ini membuat semangatnya sedikit terpompa.

Ia menghabiskan malam ketiganya di hutan bersama kera-kera itu. Ada lebih banyak kera daripada yang pertama kali dilihatnya, mengingat hari itu, Marina mengatakan kurang lebih mungkin ada sekitar 30 kera.

Mereka tidur dengan tenangnya diatas pohon, dalam kanopi kanopi, sementara ia harus merasa puas dengan meringkuk di tanah, diantara dua semak. Mengetahui kera-kera itu ada disana bersamanya membuat Marina Chapman merasa sedikit aman. Dan dengan makin larutnya malam, suara mereka yang saling memanggil membuat dirinya merasa nyaman.

Namun hidup di hutan pada hari-hari awal itu bkan hanya sekedar makan, tapi juga soal bertahan hidup. Bagi keluarga barunya, hal ini berarti pembagian daerah kekuasaan, dan mempertahankan daerah itu.

Penasaran ingin tahu bagaimana kelanjutan kisah Marina Chapman? Tunggu bagian 2 dari cerita wanita luar biasa ini selanjutnya, persembahan Master Agen Bola - agen SBOBet terpercaya dan nomor 1
Selengkapnya Marina Chapman - Diculik, Dibuang di Hutan, dan Dibesarkan oleh Kera Capuchin